9 comments

    1. Salam hormat juga dari kami untuk Sdr. Iqbal. Mungkin terlalu tinggi kalau solusi. Sekedar angan-angan lebih tepatnya 😀

    1. Matur nuwun juga Pak Arief menyempatkan singgah di web saya. Ke depannya sih Pak pinginnya Jogja minimal bisa seperti di area wisata Borobudur, di mana papan informasi dan petunjuk didampingi dengan aksara Jawa. Di Jogja baru sebatas papan nama jalan. Andai semua instansi pemerintah, tempat wisata, kios, supermarket, bahkan sampai produk lokal khas menggunakan aksara Jawa sebagai pendamping tulisan Latin, sangat mungkin menjadi total immersion dan pembelajaran untuk masyarakat Jogja sehingga mereka akan terbiasa melihat dan semakin mengerti dengan aksara Jawa. Ah namanya angan-angan Pak, kadang mbleber-mbleber 😀

    1. Terima kasih sebelumnya Sdr. Radith yang telah berkunjung ke web ini. Logo ini hanya versi Jawa dari logo yang resmi, maka tetap dibaca “Jogja”. Kalau aksara yang bagaimana tentu di luar pakem, bukan jenis pada umumnya seperti Gagrak Pujakesuma, Gagrak Yogyakarta, maupun Mbata Sarimbag. Aksara ini menyesuaikan desainnya dengan logo yang resmi dengan berusaha tidak menghilangkan filosofi yang ada. Meski diakui saya belum berhasil untuk memasukkan semua elemen dari filosofi seperti 9 Renaisance yang menjadi cita-cita arah pembangunan Yogyakarta dan saya terbuka untuk masukan dan kritikannya. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *